Now Playing Tracks

Bukan Bidak Biasa

Bayangkan kita sedang bermain catur. Biasa aja kan? Tapi sekarang bayangkan semua bidak di papan catur itu punya pikiran sendiri, punya perasaan sendiri, punya angan-angan sendiri, dan punya berbagai motivasi tersendiri. Mendadak, ini menjadi suatu kegiatan yang sangat sulit.

Dalam situasi seperti ini, analisa yang sifatnya mekanistik (apalagi yang sungguh mengikuti panduan di manual book sepenuhnya) tidak akan berjalan dengan efektif. Kita tidak hanya sulit mengetahui lawan kita akan membuat gerakan seperti apa dengan bidak caturnya, tapi juga kita tidak akan tahu pasti apa yang akan dilakukan oleh kelompok kita sendiri. Timbul lebih banyak ketidakpastian, sehingga kita harus lebih dinamis dan fleksibel dalam berpikir serta bertindak.

Kira-kira itulah yang sedang terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Jauh lebih rumit daripada bermain catur dengan bidak-bidak yang sepenuhnya mengikuti keinginan kita. Manusia yang berinteraksi dengan kita bukanlah benda mati yang bisa dengan mudah kita gerakkan sesuai kehendak kita. Oleh karena itu, berpikirlah matang-matang sebelum mengambil suatu keputusan karena itu dapat memberi pengaruh yang besar :)

Mungkin tulisan ini bakal terasa lebih relevan buat mereka yang sedang berkutat dengan organisasi :) Semoga ilustrasi ini bisa memperjelas situasi seperti apa yang sedang dialami saat ini.

Posted via email from agoes santosa’s posterous | Comment »

Bangun Pagi atau Siang

Kemarin yang lalu sempat ngobrol dengan seorang teman yang lagi kesal karena dicap pemalas… gara-gara dia sering bangun siang banget :D Selain dikasih cap pemalas, dia juga dapat bonus nasehat dan petuah. Salah satunya berisi ungkapan “the early bird catches the worm”. Padanan katanya bahasa Indonesianya apa ya? “Siapa cepat dia dapat” mungkin ya?

Meskipun ungkapan di atas keliatannya memang oke, tapi tentunya itu gak bakal berlaku tepat untuk semua orang. Memang ada orang-orang yang kalau bangun pagi, dia akan mampu menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dibandingkan kalau dia bangun siang. Tapi ada juga orang yang kalau pagi masih belum ‘on’ dan jadinya ga bisa mengerjakan apa-apa (pas malam hari malah dapat banyak inspirasi sehingga ga bisa berhenti kerja). Ada juga yang memang kerjaannya dari sore sampai malam (misalnya dokter/suster shift malam), makanya pagi-pagi dia masih tidur :D

Kalau mau menanggapi perumpamaan itu sekalian: saat kita jadi burung, mungkin memang ada bagusnya kita bangun pagi biar dapat ulat. Tapi kalau kita jadi ulat, justru lebih baik kita tidur malam dan bangun siang supaya ga dimakan sama burung :P

Jadi masalah cepat atau lambat atau pagi atau siang atau lain-lainnya itu tergantung situasi yang dialami oleh individu tersebut, aliasnya konteksnya gimana. Perlu dipertimbangkan juga karakteristik si individu itu kayak gimana. Mungkin… ada baiknya juga ya kita menahan diri sebelum langsung melontarkan berbagai macam nasehat dan petuah ke orang lain?

Posted via email from agoes santosa’s posterous | Comment »

Pribadi yang dapat berhasil…

Dilihat dari larisnya figur motivator di Indonesia, nampaknya banyak sekali orang yang ingin menjadi pribadi yang berhasil meraih kesuksesan dalam hidupnya. Tentunya sukses itu sifatnya personal, jadi tidak bisa diukur dengan skala yang berlaku untuk semua orang. Ada orang yang merasa sukses kalau sudah berhasil jadi Manager sebelum usia 25, jadi Director sebelum umur 30, jadi ‘Entrepreneur’ dan punya banyak karyawan, serta rekening yang penuh berisi duit. Ada yang merasa sukses kalau sudah bisa bikin orangtuanya naik haji. Tapi ada juga yang udah merasa hidupnya sudah sukses kalau berhasil mendapatkan cinta seseorang :”)

Tiap orang punya prioritas yang berbeda-beda dalam hidup, jadi tidak bisa dibandingkan begitu saja. Tapi, belakangan ini makin banyak ya motivator yang mendorong orang-orang untuk berani bisnis. Tentunya mereka nggak ‘ujug-ujug’ ada, tapi muncul karena ditarik oleh adanya kebutuhan dari masyarakat. Bukan cuma motivator, yang tadinya ceramah agama saja ada yang ganti jadi ngomongin bisnis, soalnya lebih banyak yang dengerin, hehe.

Sebenarnya pribadi seperti apa sih yang bisa berhasil dalam dunia bisnis? Pertanyaan ini diajukan oleh Kaplan, Klebanov, dan Sorensen (2008) dalam riset yang berjudul ‘Which CEO Characteristics and Abilities Matter?’. Dalam riset ini, mereka melakukan pengumpulan data terhadap kepribadian yang dimiliki oleh 316 CEO dan membandingkan kinerja perusahaannya. Sebelumnya, pada tahun 2001, ada riset yang dilakukan oleh Barrick, Mount, dan Judge terhadap penelitian leadership selama 100 tahun terakhir ini.

Dari hasil riset Kaplan dkk., ternyata tidak ada gaya kepribadian atau gaya kepemimpinan tertentu yang berkaitan dengan keberhasilan seseorang. Akan tetapi, mereka menemukan sifat-sifat (traits) yang berkorelasi dengan keberhasilan mereka adalah: kemampuan untuk memperhatikan detail, kegigihan, efisiensi, analisa mendalam dan menyeluruh, serta kemampuan tahan bekerja dalam waktu yang lama.

Riset Barrick, Mount, dan Judge juga menunjukkan hasil yang serupa. Jika dikorelasikan dengan konsep Big Five Personality Traits, keberhasilan itu tidak ada kaitannya dengan apakah kamu seorang extrovert yang suka bergaul dengan banyak orang atau tidak. Juga tidak ada kaitannya dengan apakah kamu suka mencari informasi dan menerima hal-hal yang sifatnya baru. Juga tidak ada hubungannya apakah kamu orangnya menyenangkan atau tidak dalam berbagai situasi sosial. 

Yang punya kaitan erat adalah seberapa baik stabilitas emosi yang kamu miliki. Sifat lain yang punya kaitan erat adalah apakah kamu dapat diandalkan oleh orang lain atau tidak dalam hal membuat perencanaan dan juga melaksanakannya hingga tuntas.

Kesamaan dari 2 riset tersebut adalah: yang menentukan apakah kita bisa berhasil atau tidak adalah apakah kita mampu membuat perencanaan yang baik DAN apakah kita mampu melaksanakannya secara konsisten hingga tuntas atau tidak. Dalam buku “Good to Great”, Jim Collins menulis bahwa pribadi yang berhasil bukanlah orang yang heboh dengan visinya, bukan orang yang jago bermain-main dengan jargon dan quotes serta sibuk berkampanye tentang dirinya, tapi orang-orang yang tekun, rendah hati, punya dorongan motivasi dari diri sendiri, dan benar-benar tahu hal apa yang dapat mereka lakukan dengan baik. Yang paling penting dari semuanya: kemampuan untuk eksekusi secara nyata.

Meskipun contoh riset di atas merupakan riset dalam dunia industri dan organisasi, kayaknya ada yang bisa kita terapkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Mudah-mudahan apa yang dituliskan ini bermanfaat dan ada yang bisa diterapkan dalam hidup kita masing-masing.

Sumber:

Barrick, M. R., Mount, M. K. and Judge, T. A. (2001), Personality and Performance at the Beginning of the New Millennium: What Do We Know and Where Do We Go Next?. International Journal of Selection and Assessment, 9: 9–30. doi: 10.1111/1468-2389.00160

Collins, Jim. (2001). Good to Great: Why Some Companies Make the Leap… and Others Don’t. HarperBusiness

Kaplan, Steven N., Klebanov, Mark M. and Sorensen, Morten, Which CEO Characteristics and Abilities Matter? (July 1, 2008). Swedish Institute for Financial Research Conference on the Economics of the Private Equity Market; AFA 2008 New Orleans Meetings Paper. Available at SSRN: http://ssrn.com/abstract=972446 or http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.972446

Posted via email from agoes santosa’s posterous | Comment »

Yang tidak diajarkan di sekolah…

Di seri The Sandman (Vol. 9, The Kindly Ones) karya Neil Gaiman, ada kutipan menarik dari salah satu karakter fiktif di graphic novel tersebut. Katanya, dia sudah membuat “daftar hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah”. Cuplikannya:

Sekolah tidak mengajarkan bagaimana caranya mencintai seseorang. Sekolah tidak mengajarkan bagaimana caranya mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh orang lain. Sekolah tidak mengajarkan apa yang harus kita katakan pada orang yang sedang sekarat. Sekolah tidak mengajarkan semua hal-hal yang perlu kita ketahui.

We are clueless about all that stuff!

Kalau ditanya kenapa saya memilih kuliah di psikologi, jawaban yang agak berbau psikologisnya adalah karena di sekolah nggak diajarkan bagaimana caranya memahami orang lain. Sampai lulus pun ternyata memahami orang lain masih tetap sulit karena perlu usaha lebih dan introspeksi yang berkelanjutan. Untuk memahami orang lain, kita perlu memahami diri kita sendiri. Saat diri kita berubah, cara kita memahami orang lain juga akan berubah. Saat kita sendiri masih belum stabil dan terus berubah-ubah, kita tidak akan bisa benar-benar memahami orang lain.

Buat bisa mengerti tentang hal-hal yang ada di paragraf 2, jelas tidak bisa hanya sekedar jadi pengamat yang melihat dari jauh. Kalau umpamanya ada di pantai, kita harus ikut berenang dan merasakan basahnya air laut dan teriknya panas matahari. Jelas nantinya nggak akan seperti baca buku latihan soal yang ada ‘aha-insight-moment’ dan langsung bisa menyelesaikan permasalahan saat itu juga. Mungkin kita tidak akan langsung tahu apakah kita sudah jadi paham atau belum, karena kita terus berada dalam proses untuk menjadi paham.

Posted via email from agoes santosa’s posterous | Comment »

Di balik yang tertinggal

Hari ini saya membongkar-bongkar lemari arsip kuliah S1 untuk mencari materi kuliah praktikum yang akan kembali dibahas di matrikulasi S2. Secara tidak terduga, rupanya semuanya tersimpan dengan rapi. Tadinya saya pikir saya ini orangnya ‘pabalatak’, tapi ternyata cukup teratur juga. Bahkan semua materi kuliahnya ternyata sudah dipisah per semester, per mata kuliah, dan diurutkan sesuai dengan urutan pertemuannya…

Mungkin juga materi kuliah ini tersimpan rapi karena saya ga pernah baca-baca lagi materi semester sebelumnya :D

Di antara tumpukan materi kuliah itu, ada cukup banyak fotokopi diktat dan catatan kuliah dari nama yang sama. Untuk mempermudah penulisan, kita sebut saja dengan saudari X agar tidak terlalu panjang. X adalah orang yang waktu tingkat I-II-III tergolong rajin. Catatannya hampir selalu lengkap, dan begitu juga dengan diktat kuliahnya. Karena tulisannya yang rapi (dan banyak catatan tambahan yang dia tuliskan di diktatnya), saya sering meminjamnya untuk difotokopi. X cukup berprestasi secara akademik karena IPK-nya tinggi. Di kelas juga biasanya dia duduk di depan, sehingga dulu saya berpikir dia ini orang dengan kepribadian tipe-A :P

Hingga saya menemukan kembali fotokopian ini, X masih belum menyelesaikan studinya di S1 Psikologi. Sudah setahun lebih statusnya ‘tinggal skripsi doang’. Katanya sih dari jaman dulu, lulus tepat waktu di Fakultas Psikologi itu susah banget. Tapi kan sekarang kurikulum terus diperbaiki supaya semuanya punya standar yang sama dan bisa diselesaikan dalam waktu 4 tahun, nggak lagi seperti jaman dahulu kala. Beberapa universitas malah menetapkan sistem DO kalau mahasiswa itu sudah kelamaan kuliah tanpa ada ujungnya.

Kenapa X bisa belum menyelesaikan studinya hingga sekarang? Tentunya ada banyak faktor, mulai dari internal sampai eksternal. Rasanya kalau kita perhatikan, ini dapat menjadi pelajaran bagi adik-adik angkatan dan juga buat saya yang kembali menjadi mahasiswa baru.

Berbeda dengan kuliah di kelas yang pakai sistem ceramah, skripsi ini dikerjakan di luar kelas, dan menuntut si mahasiswa untuk kerja sendiri. Ini bisa jadi masalah buat mereka yang gak terbiasa belajar mandiri dan melakukan pengaturan waktu untuk diri sendiri. Beda dengan kuliah yang pasti-pasti aja kapan jam masuk, jam keluar, jam ngumpulin tugas, dan jam ujiannya, skripsi ini tidak ada kepastian kalau kita sendiri tidak berusaha untuk memastikan. Kita harus punya motivasi sendiri.

Bicara soal motivasi, ada baiknya kita punya semacam support system. Alias lingkungan yang mendukung kita untuk menyelesaikan skripsi. Jadi bukan hanya sekedar sekumpulan orang yang bisa menghibur kamu yaaa, karena bisa juga nongkrong ngobrol dan bersenang-senang setiap hari dengan orang-orang yang ga punya tujuan hidup akan  membuat kamu jadi sama seperti mereka. Carilah orang yang mendukung kamu untuk menyelesaikan perjalanan ini, lebih bagus lagi kalau mereka adalah orang yang juga ingin sama-sama menyelesaikan perjalanan yang sama.

Dari hasil ngobrol-ngobrol, memang ada tekanan tersendiri ketika hampir semua teman seangkatan sudah menyelesaikan studinya. Apalagi kalau kita masuk ke kelompok yang paling akhir banget. Jadi buat yang masih baru mengontrak skripsi, buruan selesaikan! Gak usah deh pakai rasionalisasi kuliah-lama-buat-mematangkan-ilmu kalau kenyataannya setiap hari nggak mengerjakan apa-apa yang memperdalam pemahaman. Defense mechanism itu fungsinya untuk lari dari realita!

Nggak-kebayang-nanti-mau-jadi-apa-habis-lulus juga bisa jadi faktor yang bikin orang lama menyelesaikan studinya. Ini juga dari hasil ngobrol ya, karena kalau yang dibayangkan setelah lulus nanti kegiatannya langsung nikah-hamil-ngasuh anak-jaga toko, ya wajar aja kalau nggak semangat menyelesaikan studi. Soalnya ga terlihat ada manfaat apa dari punya gelar sarjana itu, padahal bisa ada banyak (dan tiap orang berbeda-beda tentunya). Sudah kerja sebelum kuliah juga bisa bikin males beresin studi loh. Banyak yang menjadikan ini sebagai alasan, dan malah banyak yang bangga… tapi ya tiap orang mungkin prioritasnya beda-beda deh.

Ohya, selain faktor dari dalam diri, faktor yang tidak bisa dikendalikan juga turut berperan. Faktor keberuntungan, misalnya. Bisa juga faktor kesialan… misalnya sudah semangat mengerjakan proposal sampai selesai, eh ternyata dosennya mendadak dapat proyek di pulau Kalimantan selama sebulan. Pilihannya ya cuma nunggu sebulan, atau langsung apply jadi intern di proyek dosen itu tanpa dibayar, hehe.

Banyak yang bilang supaya kita terdorong untuk mencapai sesuatu, visualisasi itu penting. Dari obrolan dengan salah seorang sesama mahasiswa, muncul kisah bahwa dia ingin menyelesaikan studi untuk membuat bangga orangtuanya yang sudah susah payah menyekolahkan tinggi-tinggi. Kalau sudah punya keinginan seperti ini, visualisasikan bahwa anda memakai toga, di ruangan yang penuh dengan wisudawan-wisudawati, berjabat tangan dengan Dekan, dan mendengarkan suara tepuk tangan yang ramai (dan di antara tepuk tangan itu, ada orangtuamu! Dengan ekspresi wajah puas dan bangga!).

Postingan kali ini cukup panjang, tapi sebetulnya masih banyak yang bisa dibahas. Postingannya juga sok bijak-menasehati dan agak sok tahu juga sih, tapi ini dari pengalaman dan pengamatan pribadi kok. Semoga apa yang sudah ditulis bermanfaat buat orang yang membaca, dan juga memberi dorongan (serta tidak malah kemudian tersindir dan jadi pundung. Bukan saya yang harus bertanggungjawab atas emosi yang kamu rasakan :D, tapi kamu sendiri).

Posted via email from agoes santosa’s posterous | Comment »

61-62 pada Freud dan Helen pada Faust

Tanggal 16 April 1909, Sigmund Freud mengirimkan surat kepada Carl Jung. Di dalam surat itu, Freud menceritakan bahwa dia agak terobsesi dengan pikiran bahwa dia akan mati di usia antara 61 hingga 62 tahun. Sejak pikiran itu muncul, Freud merasa bahwa angka itu terus bermunculan di berbagai tempat. Di dalam surat itu, Freud membandingkan apa yang dialaminya dengan Faust yang melihat diri Helen pada setiap wanita yang ditemuinya.

Saat itu, Freud menjelaskan bahwa fenomena tersebut disebabkan karena dirinya menjadi lebih peka terhadap hal-hal yang berada di dalam alam bawah sadarnya.

Ketika kita melihat “pertanda” yang terus kita temui, baik di dunia nyata maupun imajinasi, jangan-jangan itu disebabkan karena sesuatu yang kita inginkan tapi belum kita sadari sepenuhnya?Jadi mungkin, “pertanda” itu bukan berasal dari lingkungan tapi berasal dari dalam diri kita?

Bagaimana ya rasanya terpukau oleh seseorang sehingga kita terus melihat diri orang itu pada setiap orang yang kita temui?

P.S.: Surat ini bisa ditemukan di bagian Lampiran (Appendix) buku biografi Carl Jung yang berjudul Memories, Dreams, Reflections.

P.S.S.: Postingan kali ini cuma berandai-andai menggunakan surat yang dikirimkan lebih dari 100 tahun yang lalu ya, jadi jangan terlalu dipikirkan secara serius :D

Posted via email from agoes santosa’s posterous | Comment »

40 Years of Silence

40 Years of Silence ini adalah sebuah film dokumenter tentang peristiwa 1965, saat itu Soeharto melakukan pembantaian besar-besaran terhadap kaum komunis di Indonesia. Bahkan ini termasuk salah satu pembantaian terbesar di Asia pada dekade itu, tapi seluruh dunia terdiam dan warga Indonesia hanya tutup mulut. Sekarang, hanya dalam puluhan tahun, wajah negara ini berubah sedemikian jauhnya…

Film ini menceritakan empat keluarga yang menjadi saksi atas peristiwa pembantaian tersebut. Jadi kepingin nonton…

Posted via email from agoes santosa’s posterous | Comment »

Charles Bukowski: Memperjuangkan Sesuatu

If you’re going to try, go all the way. Otherwise, don’t even start. This could mean losing girlfriends, wives, relatives and maybe even your mind. It could mean not eating for three or four days. It could mean freezing on a park bench. It could mean jail. It could mean derision. It could mean mockery — isolation. Isolation is the gift. All the others are a test of your endurance, of how much you really want to do it. And, you’ll do it, despite rejection and the worst odds. And it will be better than anything else you can imagine. If you’re going to try, go all the way. There is no other feeling like that. You will be alone with the gods, and the nights will flame with fire. You will ride life straight to perfect laughter. It’s the only good fight there is.

 - Factotum, Charles Bukowski

Trivia: Kemarin adalah hari kelahiran Charles Bukowski.

Posted via email from agoes santosa’s posterous | Comment »

Pai Ma

Masih nyambung dengan postingan sebelumnya tentang Sun Go Kong, tentu hampir semua orang tahu bahwa rombongan yang pergi ke Barat bersama biksu Tong adalah Sun Go Kong, Chu Pa-chieh (Tie Pat Kay), dan Sha Ho-shang (Sha Cheng). Yang menarik dari cerita perjalanan ke Barat adalah dinamika di dalam kelompok ini yang bisa jadi semacam refleksi atas pergulatan batin yang kita alami di dalam diri kita sehari-hari.

Sun Go Kong mewakili perilaku kita yang liar, tidak terarah, sombong, dan egois. Tie Pat Kay mewakili keserakahan dan nafsu. Sementara itu, Sa Cheng mewakili diri kita yang tidak yakin diri dan perlu mendapatkan dukungan dari lingkungan. Biksu Tong sendiri merupakan perwakilan dari bagian dari diri kita yang mengendalikan aspek yang lain agar tetap terkendali.

Ada yang mengatakan bahwa pesan moral dari kisah Perjalanan ke Barat adalah bahwa pelajaran terpenting yang diperoleh para tokoh utama bukanlah “Kitab Suci” di Barat, tapi justru proses pendewasaan yang didapatkan dengan cara mengatasi 81 cobaan yang mereka hadapi di sepanjang jalan menuju ke Barat. Di dalam perjuangan mereka, yang penting bukan hasil akhirnya tapi proses yang dialami.

Buat refleksi: jadi yang bisa mendewasakan diri kita adalah saat kita mengalami permasalahan dan konflik, serta usaha kita untuk mengatasi hal tersebut. Kedewasaan kita dapat dibentuk dari interaksi berbagai aspek pribadi yang kita miliki. Berdialog dengan diri sendiri bisa jadi membantu kita untuk lebih matang :)

Oh ya, sebenarnya ada satu lagi murid biksu Tong yang ikut pergi ke Barat, yaitu pangeran Naga yang dihukum menjadi… kuda putih (= Pai Ma) yang ditunggangi biksu Tong. Di dalam cerita, kayaknya dia hanya jadi pelengkap dan tidak punya banyak peran.

Begitu juga dalam hidup ini, jangan takut menjadi seseorang yang akan menghadapi hambatan dan konflik, karena saat kita berhasil mengatasi hal tersebut, kita akan jadi lebih matang dan dewasa. Kita bisa saja menjadi figur yang sekedar ikut-ikutan saja, tapi kita akan hanya sekedar jadi pelengkap.

Posted via email from agoes santosa’s posterous | Comment »

To Tumblr, Love Pixel Union